Tidak sama (antara) dua laut: yang ini tawar, segar, dan mudah diminum serta yang lain sangat asin. Dari masing-masing itu kamu dapat memakan daging yang segar dan dapat mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Di sana kamu melihat bahtera (berlayar) membelah (lautan) agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan agar kamu bersyukur.
Tafsir Jalalain
(Dan tiada sama -antara- dua laut; yang ini tawar, segar) sangat tawar (sedap diminum) sedap rasanya (dan yang lain asin lagi pahit) karena terlalu asin. (Dan dari masing-masing) kedua laut itu (kalian dapat memakan daging yang segar) yaitu ikan (dan kalian dapat mengeluarkan) dari laut yang asin, menurut pendapat yang lain dari laut yang tawar juga (perhiasan yang dapat kalian memakainya) yaitu berupa mutiara dan batu Marjan (dan kamu lihat) kamu dapat menyaksikan (bahtera) perahu (padanya) yakni pada masing-masing dari keduanya (dapat berlayar) dapat membelah airnya karena dapat melaju di atasnya; baik maju atau pun mundur hanya dengan satu arah angin (supaya kalian dapat mencari) berupaya mencari (karunia-Nya) karunia Allah swt. melalui berniaga dengan memakai jalan laut (dan supaya kalian bersyukur) kepada Allah atas hal tersebut.
Tafsir Kemenag
Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa ada dua keistimewaan air, masing-masing mempunyai kegunaan sendiri-sendiri. Keduanya dapat menjadi tempat berkembang biak ikan yang lezat cita rasanya. Air tawar di sungai-sungai yang mengalir melalui desa-desa dan kota-kota besar, sedap diminum, menghilangkan dahaga, menyuburkan tanah, dan menumbuhkan rumput-rumputan, tanam-tanaman, dan pohon-pohonan. Perahu-perahu dapat berlayar di atasnya untuk membawa keperluan hidup dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan air asin, di dalamnya terdapat mutiara dan karang laut yang dapat dijadikan perhiasan, dan menjadi tempat berlayarnya kapal-kapal besar membawa hasil bumi dan tambang dari satu tempat ke tempat-tempat lain, baik di daerah sendiri maupun ke luar negeri sebagai barang ekspor atau mendatangkannya dari luar negeri sebagai barang impor, yang tidak dapat dijangkau oleh perahu-perahu kecil, sebagai barang dagangan untuk mencari karunia Allah.
Pada akhir ayat ini dijelaskan bahwa kekuasaan Allah dapat menundukkan air tawar dan air asin sehingga bisa dipergunakan menurut fungsinya masing-masing. Hal demikian itu bertujuan agar manusia bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepadanya itu.
Menurut para saintis, air nikmat diminum dan terasa segar apabila mengandung hanya sedikit garam terlarut, sedangkan rasa asin dan pahit air laut disebabkan oleh tingginya kandungan garam yang terlarut di dalamnya. Ukuran kandungan garam di dalam air biasa dinyatakan dengan kegaraman atau salinitas yang satuannya adalah gram garam per kg air, atau karena BD air = 1, dalam gram/liter. Empat belas abad yang lalu, ketika ilmu kimia praktis belum ada, ayat ini telah menyatakan bahwa salinitas air laut berbeda-beda. Kenyataan ini terbukti kini bahwa apa yang dinyatakan dalam ayat ini benar adanya. Hasil pengukuran di seluruh dunia memperlihatkan bahwa salinitas rata-rata air laut adalah sebesar 34,72 gr/l. Tetapi salinitas rata-rata ketiga samudra besar memiliki perbedaan: 34, 90 untuk Samudra Atlantik, 34,76 untuk Samudra Hindia dan 34,62 untuk Samudra Pasifik. Salinitas air di lautan terbuka umumnya bervariasi antara 33 sampai 37 gram/l. Salinitas tertinggi di laut terbuka dijumpai di Laut Merah ( sekitar 41 gr/l), sedangkan salinitas terendah dijumpai di Teluk Bothnia dan Laut Baltik (Masing-masing sekitar 10 dan 20 gr/l).
Sumber:
Aplikasi Quran Kementrian Agama Republik Indonesia